16 Mei 2009

Manusia, Kebudayaan dan Peradaban (Telaah Jahiliyah Indonesia)

Manusia, Kebudayaan dan Peradaban
( Telaah Realistis Fenomena Jahiliyah Indonesia)
By : Al Faqir ; Muhammad Subkhan *


Pendahuluan

Manusia sebagai salah satu makhluk yang menghuni dimensi material alam Allah SWT ini memiliki berbagai macam hal yang melekat pada diri manusia itu sendiri untuk dijadikan topic pembahasan. Dalam hal mana, di dalam diri manusia itu sendiri terdapat potensi-potensi yang tidak dijumpai (secara lengkap) sebagaimana pada makhluk Allah SWT yang lain. Sehingga manusia memiliki predikat dari Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna. (QS. 95 : 4)
Celakanya, potensi yang menjadikan manusia tersebut dapat dikatakan eksis inilah yang justru dapat mengakibatkan manusia itu sendiri dapat merasa “tersiksa” dan “menikmati” pola kehidupannya di alam dunia ini.
Dua kecenderungan yang saling bertolakbelakang di atas inilah yang menjadikan bobot manusia (yang juga berpredikat Khalifah fii al ardl) menjadi sebuah kegamangan bagi para Malaikat ketika mereka “dipaksa” untuk mendengar dan mematuhi “Keputusan” Allah SWT. Tetapi sekali lagi, Allah SWT menunjukkan ke-Absolut-an Nya dengan sebuah jawaban sederhana tanpa sebuah argument yang tidak dapat dicerna oleh Malaikat, “Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui” (QS.2 : 30)
Maka dengan menyandang predikat Khalifah Allah fii al ardl inilah, Allah merasa perlu untuk membekali diri manusia sesuai dengan Citra-Nya, karena ia juga merupakan mazhhar (tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang lengkap dan menyeluruh. Karena itu pula, Allah SWT menciptakan manusia dengan cara tersendiri, berbeda dengan kejadian jenis makhluk-Nya yang lain.

Ruh dan Jasad Manusia

Manusia pada hakekatnya, bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur material yang digalibkan oleh Allah saja seperti terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Mu’minun :12-16, akan tetapi pada diri manusia terdapat ruh (yang tidak dapat dicerna oleh akal manusia dan menjadi urusan Allah). Melalui ruh inilah, jasad manusia digunakannya untuk melakukan aktifitasnya.
Syekh Nuruddin ar Raniry memberikan statement, bahwa hakekat manusia adalah sama pengertiannya dengan nafs nathiqah (jiwa berpikir), karena ruh berasal dari alam arwah dan memerintah serta mempergunakan jasad sebagai alat. Sedangkan jasad berasal dari alam khalk (alam ciptaan) yang dijadikan anasir materi. (Ahmad Daudy, 1983 : 133)
Inilah hakekat manusia menurut ajaran Islam, dimana manusia tersusun dari unsur materi, yaitu tubuh (jasad) yang memiliki unsur hayat dan unsur imateri yaitu ruh yang memiliki dua daya. Daya rasa di dada dan daya pikir di kepala.
Dengan pembuktian inilah, maka Allah SWT menunjukkan jawaban atas kegamangan yang ada pada para malaikat, bahwa dengan potensi inilah manusia akan dapat menjadi “wakil-Nya” untuk mengelola alam beserta isinya.

Kebudayaan dan Peradaban

Dalam hidupnya, manusia dihadapkan pada dua hal yang bertolakbelakang, yaitu harapan dan kecemasan. Harapan untuk mendapatkan kehidupan yang baik, dan cemas akan mendapatkan kehidupan yang tidak baik. Maka untuk mengatasi persoalan ini, manusia membutuhkan suatu kekuatan yang diyakininya dapat menjadi penolong atas masalah yang menimpanya itu. Sandaran vertical (beserta dogma yang diyakini) itulah yang kemudian dikemas dalam suatu bentuk yang disebut agama.
Agama pada umumnya diyakini mengandung ajaran-ajaran dari Yang Maha Tahu dan Maha Benar. Karenanya, ajaran agama diyakini bersifat absolute dan mutlak benar yang harus diterima oleh pemeluknya. Namun masyarakat yang hendak diatur oleh agama, sebaliknya senantiasa mengalami perubahan dan oleh karenanya bersifat dinamis.
Sedangkan budaya, yang disebut sebagai hasil pikiran manusia (Sulkan Yasin, tt : 43) timbul sebagai hasil dari interaksi antara pemikiran akal manusia dan keterbukaan serta dinamika masyarakat, maka dengan sendirinya kebudayaan itu juga bersifat dinamis. Dengan demikian, tidaklah mengherankan kalau agama dan perkembangan kebudayaan selalu terdapat ketidakharmonisan. (Harun Nasution, 1989 :88)
Banyak sekali indicator bahwa suatu bangsa ternyata mengalami stagnasi budaya. Hal ini terjadi karena adanya suatu benturan antara kebudayaan dengan ajaran agama. Seperti halnya yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia (yang oleh para ulama “modern”) dikatakan sebagai suatu “kesalahan” dalam proses penyebaran agama Islam yang di bawa oleh para Wali Songo. Dalam hal mana, klaim atas hal itu muncul karena Wali Songo telah banyak “menggiring” umat lebih dekat pada bid’ah dan khurafat yang dijauhi oleh Rasulullah SAW. Namun kearifan lokal yang melekat pada keilmuan para wali, ternyata dapat mencerahkan cakrawala baru pada masyarakat jawa yang sebelumnya telah memiliki kebudayaan-kebudayaan dengan berlandasan pada kepercayaan sebelumnya.
(Lepas dari pembahasan di atas), dari proses perkembangan budaya inilah, kemudian lahir dengan apa yang disebut sebagai peradaban, yang dalam perspektif manusia pada umumnya, peradaban ini identik dengan kesopanan. Why ? karena peradaban itu lahir setelah terjadi hal-hal yang dianggap oleh manusia sebagai tindak penyimpangan dari fitrah mereka dengan segala indicator kebebasan yang dimilikinya.
Peradaban itulah yang sebenarnya dikehendaki oleh seluruh manusia, tidak terbatas pada sekelompok manusia saja dalam suatu koloni yang disebut Muslim atau non Muslim. Peradaban yang dikehendaki adalah yang bersifat universal, dimana hal ini sebenarnya memiliki keselarasan dengan Dogma yang ada pada ajaran agama Islam itu sendiri, yang bersifat rahmatan lil ‘alamin (memberikan kesejahteraan bagi seluruh alam).
Maka setelah Islam tampil dan menjelma sebagai “adikuasa” baru (pada eranya), Islam dianggap telah menyuguhkan sebuah peradaban yang hakiki, karena didalam ajarannya, Islam telah membuka cakrawala baru pada masyarakat (dengan segala aturan-atauran yang dapat menata komunitas masyarakat dengan baik) yang dalam fase itu telah dianggap tidak memiliki peradaban, atau biasa kita sebut Jahiliyah.



Jahiliyah

Kata ini tidaklah sangat asing bagi kita, dan kiranya kita bersepakat bahwa Jahiliyah itu adalah suatu kebodohan manusia yang tidak dapat mengendalikan fungsi akal dan perasaan atas kuasa nafsu yang melekat secara kodrati pada manusia.
Diketahui bersama, bahwa Rasulullah Muhammad SAW lahir di tengah-tengah umat yang mengalami dekadensi moral, hilangnya tatatan perikehidupa n bagi manusia. Rasulullah SAW tampil sebagai manusia yang membawa misi Ilahiyah secara jelas, dengan memberikan sebuah perbedaan yang nyata antara ajaran Ilahiyahnya dengan kepercayaan sebelumnya, serta memberikan penalaran yang jelas, bahwa Jahiliyah (kebodohan) dapat menciptakan kejahatan dan keresahan pada manusia. Itulah mengapa tugas Rasulullah SAW bukan untuk menyebarkan Islam (yang sarat dengan syariatnya), tetapi lebih menitikberatkan pada pembentukan akhlak mulia.
Maka Jahiliyah bukanlah suatu periode pada zaman atau fase tertentu, melainkan jahiliyah adalah sebagai sikap mental spiritual tertentu yang semata-mata lahir karena hilangnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikehendaki oleh Allah SWT dari kehidupan manusia. (Abu’l Hasan Ali Al Nadwi, 1988 : 35).
Adapun indicator dari sebuah ke-jahiliyah-an masyarakat dapat ditilik dari ; a) kaburnya dogma Ilahiyah karena kefakiran ilmu pengetahuan, b). hilangnya sikap mental manusia akibat kuasa nafsu berlebih yang menguasai akal dan hati manusia.

Menyikapi Fenomena Jahiliyah Modern

Telah menjadi suatu hal yang biasa bagi kita, ketika telinga dan mata kita mendengar suatu berita yang memiriskan hati. Berbagai media baik cetak maupun elektronika yang hadir ketika kita beranjak dari tempat tidur menyuguhkan berita-berita “fenomena jahiliyah”. Berita pembunuhan, perkosaan dan perzinaan, perampokan, korupsi, perebutan kekuasaan, penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif, wa ‘ala alihi ‘ajma’in. Bahkan kalau di zaman Jahiliyah sebelum hadirnya Rasulullah SAW terdapat bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup, ternyata pada zaman ini kita berjumpa dengan fenomena ABORSI (yang lebih jahiliyah dari sekedar jahiliyah).
Mental masyarakat pelaku ekonomi, sangat kental dengan “budaya” korup, pungli, kolusi dan nepotisme telah membumi dan banyak kita jumpai dimana-mana. Para pelajar, hanyut terbawa oleh arus globalisasi dengan sibuk dan mabuk dalam pergaulan bebas dan sejenisnya dari pada membaca buku-buku bermanfaat di perpustakaan terdekat.
Almarhum Cak Nur, pernah memberikan gambaran terhadap kita bangsa Indonesia, bahwa kita sering membanggakan diri sebagai “Bangsa Timur” (dengan konotasi berbudaya tinggi dan sopan) atau “Bangsa yang Religius” (yang tentunya juga berarti bangsa yang berakhlak tinggi). Tetapi dengan jujur kita harus mengakui bahwa kebanggaan di atas sering kosong belaka. (Nurcholis Madjid, 1995 : 173)

Maka dengan penuh penyesalan, penulis dengan berat hati menyebut zaman kita hidup sekarang adalah lebih Jahiliyah dari Jahiliyahnya masa Rasulullah SAW.
Maka dari sinilah kita terdorong untuk melihat diri sendiri dengan jujur, melalui penanyaan diri ; Benarkah bangsa Indonesia, khususnya umat Islamnya sendiri, telah dijiwai dan dibimbing oleh akhlak mulia? Sudahkah umat Islam memenuhi penegasan Nabi SAW, bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak ?
Maka jawab kita, (dengan penuh keragu-raguan) ; May be Yes, may be No !




What Next ?

Sebagai penerus dakwah perjuangan Rasulullah SAW pembawa risalah Ilahiyah, kita mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus rela untuk menyingsingkan lengan baju, maju dalam dalam garda terdepan (tentunya dengan klasifikasi skil di dalam bidangnya masing-masing) untuk tampil sebagai relawan pada misi penyempurnaan akhlak dalam Save the people, dengan panji-panji Ilahiyah demi terwujudnya Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.

Sebagai penutup, (untuk direnungi untuk kemudian kita lakukan action) adagium Syekh Syauqi Beik (yang sering dikutip banyak orang), yaitu :



Sesungguhnya bangsa-bangsa itu tegak selama (mereka berpegang pada) akhlaqnya. Bila akhlaq mereka rusak, maka rusak binasa pulalah mereka.(Syauqi Beik, tt : 7)


Wallahu’alam bishshawab


--------------------------------------
• Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana STAIN Cirebon Smt.1 TA.2008-2009
• Guru PAI SMK Negeri 1 Tonjong Kab. Brebes Jawa Tengah


Refferentie

Al Nadwi. Abu’l Hasan Ali, Diterjemahkan M. Ruslan Shiddieq, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta, Dunia Pustaka Jaya, 1988.
Beik. Syauqi, Ta’lim al Muta’allim, Surabaya ,tt.
Daudy. Ahmad, Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin ar Raniry, Jakarta, Rajawali, 1983.
Madjid. Nurcholis, Islam Agama Kemanusiaan Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1995.
Nasution. Harun, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran Prof.Dr. Harun Nasution, Bandung, Mizan, 1995.
Yasin. Sulkan, Kamus Bahasa Indonesia Praktis dan Populer, Surabaya, Mekar, 1995.

ETIKA dalam FILSAFAT ILMU

E T I K A
By : Muhammad Subkhan
Disampaikan dalam Diskusi Kelas pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Program Pascasarjana STAIN Cirebon Tahun Akademik 2008-2009


Pendahuluan
Dr. Elizabeth Ross berusaha menolong rekan yang juga sebagai kekasihnya, Dr. Bruce yang terinfeksi “Virus Gamma” (kolaborasi kekuatan inti pada binatang reptil) pada saat penelitian untuk kepentingan militer AS. Akibat virus itu, maka Dr. Bruce dapat berubah menjadi raksasa hijau yang (oleh kalangan Militer AS) disebut HULK. Perubahan tersebut terjadi hanya apabila Dr. Bruce berada dalam kondisi emosi yang labil, baik karena kemarahan yang memuncak atau karena ia ingin menumpahkan segala kegundahannya yang menggejolak dalam batinnya. Dan apabila ia telah berubah menjadi Raksasa Hijau Hulk, ia dapat memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, ia dapat dengan mudah sekali melompat pada radius 2-3 Km, tubuhnya kebal terhadap serangan Bazooka atau tembakan Rudal, dan ia juga dapat mengangkat peralatan artileri Angkatan Darat AS (US ARMY) yang memiliki beban paling berat sekalipun.
Keadaaan ini mendorong Jenderal Ross (yang juga ayah dari Dr. Elizabeth Ross), selaku Panglima Militer AS untuk mengembangkan Virus Gamma pada tubuh serdadu Angkatan Darat AS yang pada masa itu harus berhadapan dengan para Mujahidin di Timur Tengah yang mengembangkan senjata kimia.
Namun motivasi Jenderal Ross belum dapat terealisasikan apabila ia tidak mendapatkan sample DNA dari Hulk Sang Raksasa Hijau. Maka dengan segala daya upaya (termasuk melibatkan kesatuan militernya) ia berusaha untuk melumpuhkan Hulk dan mengambil DNA nya guna kepentingan dan ambisinya. Selanjutnya mudah ditebak, jika aksi-aksi yang dilakukan oleh Jenderal Ross beserta kekuatan militernya sangat sporadis sekaligus mempersulit usaha Dr. Elizabeth Ross yang sedang berusaha menyembuhkan dan menetralisir Virus Gamma yang mengendap dalam tubuh Dr. Bruce.


Inilah sebuah sinopsis dari tayangan film seri Superhero AS “ THE INCRIDIBLE HULK” yang menjadi sebuah gambaran betapa aspek etika dalam ilmu pengetahuan memang lebih dikedepankan.

Pengertian Etika
Seperti diketahui, bahwa filsafat memiliki tiga cabang besar di dalamnya, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Sebelum etika dibicarakan, akan lebih runtut pemikiran kita apabila kita membuka gerbang teori nilai sebelum membuka pintu etika, karena etika ini merupakan unsur penting dari teori nilai. Cabang filsafat yang terakhir, yaitu aksiologi dapat disebut pula sebagai ilmu yang melakukan penyelidikan mengenai kodrat, kriteria dan status metafisik dari nilai, (dan dengan hal tersebut) maka nilai disebut pula sebagai aksiologi (Cecep Sumarna, 2006; 182).
Nilai diakui sebagai the key of science, karena bagaimanapun tinggi suatu ilmu pengetahuan tanpa adanya sebuah nilai yang bermakna bagi manusia, tetap saja pengetahuan tersebut akan diklaim sebagai sesuatu yang tidak memiliki daya guna yang ujung-ujungnya adalah munculnya upaya-upaya untuk menghalangi perkembangan pengetahuan yang dimaksud. Maka, walaupun ada yang mengatakan bahwa berfilsafat berarti juga tidak terbatasi oleh nilai yang kemudian dibahasakan secara ringkas sebagai yang “bebas nilai”, tetapi apabila filsafat dan ilmu tidak terbingkai oleh sesuatu yang bernama nilai, maka ia akan dianggap berbahaya. Karenanya the key of science juga diistilahkan menjadi ruh al ‘ilmu, dengan ibarat ilmu yang tidak berlandaskan nilai, laksana tubuh tanpa ruh, yang berarti tidak memiliki daya guna (ibid : 183).
Hal tersebut juga didasarkan pada tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang tidak lain adalah untuk (tercapainya) suatu kebenaran (Endang Saefudin Anshari, 1987 ; 61), yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan hidup manusia di dalam pelbagai bidangnya, melalui empat macam fungsinya, yaitu sebagai ; 1) deskriptif, 2) pengembangan, 3) prediksi, dan 4) kontrol (RBS Fudyartanta, 1971 ; 11-14). Socrates sendiri pernah di klaim oleh para pemikir Yunani Kuno pada saat itu, bahwa ia adalah orang yang anti ilmu pengetahuan disebabkan karena pernyataannya bahwa dunia ini hakekatnya tidak memberikan manfaat apapun bagi kemanusiaan, bahwa tidak semua persoalan manusia dapat ditemukan jawabannya melalui ilmu pengetahuan, terlebih jika menengok bahwa nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu positif dan relatif (tidak mutlak). (Paul Strathern, 2001 ; 11-13).
Julius Robert Oppenheimer, atau biasa dipanggil Oppie adalah “Bapak Bom Atom”, yang jenius sekaligus rumit pemikirannya dan juga dingin. Ia merasa bangga ketika penemuannya berupa Bom Atom menjadi sebuah Maha Karya yang spektakuler di masanya. Namun ia menjadi orang yang sulit dimengerti, baik sikapnya maupun arah pemikirannya, ia tetap bercabang (menjadi seorang jenius yang bangga bahwa ciptaannya mampu mencapai puncak bencana ekologi) sampai akhir hidupnya. Maka para ilmuwan AS menyebutnya sebagai orang yang secara teknis unggul dalam bidangnya, namun ia tidak secara moral, karena seolah-olah ia membuat perjanjian dengan iblis untuk pemusnahan ekologi guna kekuasaan dan karir jabatannya di Institute for Advanced Study (IAS). (Paul Strathern, 2003 ; 77-83). Inilah hasil ilmu pengetahuan bersifat individual yang tidak terbingkai oleh kerangka sosial.
Sedangkan etika merupakan salah satu unsur dari aksiologi yang bercerita tentang nilai yang baik dan nilai buruk. Etika biasa dikaitkan dengan moral, walaupun keduanya seolah sama, namun berbeda dalam pengertiannya. Etika menurut arti bahasa berasal dari Bahasa Yunani, ethos yang berarti watak. Moral berasal dari Bahasa Latin mos (tunggal) dan mores (bentuk jamak) yang diartikan kebiasaan. Menarik pendapat dari Frans Magnis Suseno sebagaimana dikutip oleh Cecep Sumarna (Op.Cit.; 192-193) , bahwa moral merupakan sejumlah ajaran, kumpulan peraturan dan ketetapan, wejangan-wejangan, tulisan-tulisan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar ia menjadi baik. Moral bukan etika, karena etika merupakan pemikiran yang kritis serta mendasar tentang ajaran moral. Jadi etika tidak menceritakan bagaimana manusia harus hidup, namun etika bercerita tentang bagaimana manusia harus bertanggungjawab terhadap ajaran moral yang dianutnya.
Berhubungan dengan teknologi yang menjadi tuntutan kebutuhan manusia, maka apabila dikatakan bahwa filsafat adalah pelengkap ilmu pengetahuan, lalu apa yang menjadi pelengkap teknologi ? Teknologi merupakan penerapan dari ilmu pengetahuan. Maka pelengkap teknologi adalah penerapan pelengkap ilmu pengetahuan, yaitu filsafat. Dengan itu, timbul pertanyaan, “apa pula yang dimaksud dengan filsafat terapan ?”, dan jawabannya adalah, etika itulah yang merupakan filsafat terapan (Armahedi Mahzar, 1983 ; 24). Salah satu bukti dari hal diatas adalah sebagaimana penciptaan Bom Atom, dimana teknologi adalah cara untuk mencapai suatu tujuan, tetapi tujuan yang bernilai baik atau tidak, bukan merupakan urusan teknologi itu sendiri melainkan ditentukan oleh etika. Jika mahasiswa S2 membeli Laptop, maka didalam kemasannya ada buku petunjuk tentang bagaimana cara kita memperlakukan Laptop dengan baik, itu adalah moral. Tetapi etika memberikan suatu pengertian tentang bagaimana Laptop itu dikonstruk dan sistem teknologi Laptop yang bekerja.

Manusia dan Etika
Manusia telah digariskan oleh Allah, Tuhan Rabb semesta alam, Tuhan semua makhluk di jagatraya untuk menjadi khalifah (wakil-Nya) di bumi. Dengan adanya tugas ini,maka manusia sudah barang tentu dikaruniai dengan beberapa potensi yang berbeda (dalam pengertian lebih tinggi) dengan makhluk-makhluk lain. Manusia dapat disebut manusia (dalam konotasinya sebagai khalifah) yang apabila ia dapat memanfaatkan potensi baik ruhani maupun jasmaninya dengan baik, karena berkenaan dengan tugas-tugas kekhalifahannya sebagai keniscayaan sifat-sifat Tuhannya.
Sebagai makhluk psikologis, manusia memiliki sifat bawaan yang sangat universal. Dalam Al Qur’an manusia sering disebut sebagai basyar dan insan, dimana basyar lebih menunjukkan sifat lahiriyah serta persamaannya dengan manusia lain termasuk Nabi yang juga tidak luput dari kepemilikan sfat-sifat basyariyah. Sedangkan nama insan menunjuk pada konotasi makhluk psikologis, yang bersumber pada qalb (yang memiliki makna dinamis), yang dengan adanya hal itu manusia dapat memiliki hal-hal yang tidak dapat dimiliki makhluk lain, seperti sedih, gembira, rajin, malas, ingat, lupa, patuh, berontak, benci, rindu dan bahkan cinta.
Dalam QS.91 (Asy Syams); 7-9, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia dikaruniai design kejiwaan yang sempurna, memiliki potensi untuk dapat memahami antara yang baik dan buruk, dan bisa meningkatkan kualitasnya menjadi “suci” dan dapat tercemar menjadi kotor yang hina (QS.95 ; 4-6). Baik dalam QS.91 dan 95 mengisyaratkan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai sesuatu yang sempurna , dimana nafs itu memiliki sesuatu yang rumit dan dahsyat sekaligus sempurna yang wujud kesempurnaannya antara lain diberikannya potensi untuk memahami perilaku-perilaku baik dan buruk. Jadi pada dasarnya manusia pada design awalnya memang dipersiapkan untuk mampu membedakan yang baik dan buruk, tetapi apakah potensi tersebut menjadi aktual atau tidak masih bergantung pada proses berikutnya (Ahmad Mubarrok, 2003; 25) dimana pada titik dan kondisi-kondisi tertentu manusia dapat melakukan hal yang sebenarnya tidak baik, jahat dan bahkan menyimpang (abnormal) yang (pada tema terakhir) dapat digolongkan dalam kelompok psikopatis yang kemudian dapat pula disebut sebagai The Mentally Abnormal Criminal (Gerson W. Bawengan, 1991 ; 34).
Kepemilikan manusia terhadap pemahaman baik dan buruk, secara psikologis lebih mudah mengerjakan sesuatu hal yang baik sesuai dengan design fitrahnya, sedangkan untuk berbuat buruk atau jahat manusia harus berjuang melawan suara batinnya, suara nuraninya, sehingga terasa berat mengerjakannya. Maka dengan hal tersebut, manusia akan lebih mudah mengenali sebuah keburukan dari pada kebaikan, karena keburukan berseberangan dengan fitrahnya sebagai makhluk yang baik. Hal yang perlu disadari adalah bahwa, dialektika antara baik dan buruk merupakan sunnatullah yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan, serta merupakan bukti bahwa di belakang makna-makna yang berlawanan itu ada suatu realitas. Maka keburukan dapat dikenal jika terdapat kebaikan, sebab tidak mungkin bagi manusia mengenal kriteria yang satu tanpa mengenal kriteria yang lain, itulah dialektika sunnatullah.
Salah satu yang menjadi proses sunnatullah yang ada pada manusia adalah proses berpikir, yang sudah ada pada diri manusia sejak dilahirkan (QS.16 ; 78), dan dengan otak manusia sebagai pusat gerak penalaran, manusia diangkat oleh Allah ke tingkatan di atas malaikat dan makhluk adiragawi yang lain (QS. 2; 30-34). Manusialah yang mampu membentuk persepsi-persepsi, ide-ide, yang kemudian di uji cobakan untuk memastikan suatu hypotesis. Kekuatan otak manusia membentuk persepsi dan ide-ide yang kemudian kelak diapresiasikan pada dasar-dasar pengetahuan dan sains, dan kegiatan-kegiatan bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan itulah yang disebut epistimologi (Munandar Sulaiman, 1993 ; 170). Dan perlu diingat bahwa epistimologi yang di kembangkan manusia adalah epistimologi yang mempunyai akar humanisme yang sangat kuat, yang di dalamnya manusia menjadi titik tumpuan dan pusat perhatian alam (AM Saefudin, 1993 ; 49), maka hal tersebut menjadikan ilmu pengetahuan yang dimiliki serta dikembangkan manusia adalah mesti berbasis nilai, dengan kontsruksi pengetahuan dan teknologi yang juga berbasis etika, sebab jika hal tersebut dikaburkan oleh manusia yang terjadi justru sesuatu yang akan memukul balik manusia.
Maka menjadi tugas dan peran para ilmuwanlah untuk memiliki sekaligus mengembangkan sikap sosial yang selalu konsisten dengan proses penelaahan keilmuan yang dilakukan, karena merekalah yang memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup untuk dapat menempatkan masalah tersebut pada proporsi yang sebenarnya serta menyampaikannya kepada masyarakat dalam bahasa yang dapat dicerna oleh semua kalangan adalah merupakan kewajiban sosialnya
Manusia melalui otak dan hatinya mengatur seluruh fungsi tubuh dan ia dituntut untuk bertanggung jawab atas seluruh perilakunya, mulai dari yang primitif sampai yang super canggih sekalipun. Begitu rumit dan dahsyatnya potensi manusia, terlebih akal, sampai Kang Jalal (Jalaludin Rahmat) dalam satu seminarnya menyatakan sebagai “daerah jelajah terakhir umat manusia”.
Sangat disayangkan sekali, dengan begitu istimewa dan beragamnya kecerdasan manusia, dan begitu banyak sisi lain yang belum terkuak, sistem pendidikan dan persekolahan di negeri kita belum mampu mengakomodir hal tersebut, terbukti banyak orang tua, bahkan guru, atau bahkan pula sistem pendidikan tidak memperhatikan jenis-jenis kecerdasan lain selain IQ. Mereka begitu mendewa-dewakan IQ, yang kemudian jika ada peserta didik tidak memiliki prestasi di bidang akademik, akan dapat mudah ia di klaim sebagai siswa yang ber-IQ jongkok. Maka kami menyebut fenomena ini bukan saja sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia, tetapi pada taraf yang paling membahayakan adalah terjadinya akumulasi kerugian bagi perkembangan serta kemajuan bangsa dan negara. Kalau ini telah terjadi, apakah ilmu pengetahuan akan dapat dikembangkan dengan berbasis nilai ?
Nggak janji dech ….

Wallahu’alam bishshawab ……
Waffaqonallahu ilaa thariqil qowiem
-------------------------------------
 * Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana STAIN Cirebon Kons. PAI – TA.2008-2009
* Pengampu Mata Diklat PAI di SMK Negeri 1 Tonjong Kab. Brebes Jawa Tengah


 Daftar Bacaan
Anshari. Endang Saefudin, (1987), Ilmu, Filsafat dan Agama, Bina Ilmu, Surabaya
Bawengan. Gerson W., (1991), Pengantar Psikologi Kriminil, Pradnya Pharamitha, Jakarta.
Fudyartanta. RBS., (1971), Epistimologi, Intisari Filsafat Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta.
Mahzar. Armahedi, (1983), Integralisme, Sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Pustaka Salman, Bandung.
Mubarrok. Ahmad., (2003), Sunnatullah dalam Jiwa Manusia, Sebuah Pendekatan Psikologi Islam, MT Indonesia, Jakarta.
Strathern. Paul, (2003), Oppenheimer dan Bom Atom, alih bahasa; Fransisca Petrayani, Erlangga, Jakarta.
--------------------, (2001), 90 Menit Bersama Sokrates, alih bahasa; Frans Kowa, Erlangga, Jakarta.
Saefudin. Ahmad M., (1993), Desekularisasi Pemikiran ; Landasan Islami, Mizan, Bandung.
Sulaiman. M. Munandar, (1993), Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Eresco, Bandung.
Sumarna. Cecep, (2006), Filsafat Ilmu, Dari Hakekat Menuju Nilai, Pustaka Bani Quraisy, Bandung.
---------------------, (2008), Filsafat Ilmu, Mulia Press, Bandung.
Suriasumantri. Jujun S., (1994), Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Sinar Harapan, Jakarta.